Penguasaan dan Bagaimana Seharusnya



PENGUASAAN dan BAGAIMANA SEHARUSNYA

Orang Bijak belum tentu Pintar
Ketika orang bijak dihadapkan pada masalah kehidupan, maka kau akan terkagum-kagum dengan jawaban yang diberikannya, tapi ketika orang bijak diberi soal Matematika, Fisika, Kimia.
Jangan kaget jika semua pertanyaanmu tidak mendapat jawaban apapun, hanya jawaban kosong

Orang Pintar belum tentu Bijak 
Ketika orang pintar diberi pertanyaan tentang soal Matematika, Fisika, Kimia, maka kau akan terkagum-kagum dengan jawaban yang tepat, cepat, dan sempurna.
Tapi ketika orang pintar diberi pertanyaan mengenai kehidupan
Jangan kaget jika ia hanya bisa mematung diam.

Orang Pintar dan Bijak belum tentu Orang Bijak dan Pintar
Hanya sebagian orang yang pintar lalu menuju titik menjadi bijak, sehingga ia bisa menjadi
Orang yang berhikmat

Orang Berhikmat sudah pasti Bijak dan Pintar
Orang berhikmat sudah pasti Bijak dan Pintar, sikap tenang dan wawas diri yang sejati sudah dimiliki
Ia sudah mengetahui segala sesuatu apa yang baik dan buruk, atau tentang
Keburukan apa yang bisa digunakan sebagai kebaikan.
Ketenangan suasana sosial, kepekaan perasaan, jiwa yang tentram, hati yang tulus, dan
iman yang teguh kepada ALLAH sebagai Tuhan
menjadikan manusia menjadi orang yang berhikmat.

Menguasai diri dan bagaimana seharusnya, itu merupakan sesuatu hal yang sulit.Tingkat penguasaan diri yang seharusnya ada pada setiap manusia menjadi rusak karena faktor-faktor yang dianggap sepele (sederhana), penguasaan dan konsepsinya memang menjadi relativisme bagi semua orang, tentu semua orang memiliki banyak konsepsi dendiri-sendiri, bagaimana harus bertindak, apa yang harus dilakukan, dan banyak hal lainnya.Itu semua menjadi pandangan yang simpang siur atau tak jelas sifatnya bagi banyak pihak, tapi jika hal ini sudah sampai pada titik penguasaan diri itu, maka hikmat yang selama ini dicari-cari, tidak perlu lagi dicari-cari dan pasti akan dimiliki semua orang, dan sebuah kata yang sering menjadi perlambangan dari hidup baru yaitu “hope” atau “harapan”, tidak perlu lagi di ucapkan karena hal itu sudah menjadi nyata dan bukan sekedar khayalan semu belaka.Jadi sampai seberapa besar, kalian sudah menguasai diri dan tidak menjadi budak nafsu lagi, semakin banyak manusia yang gampang dipengaruhi diri sendiri, maka semakin banyak pula tantangan dan pencobaan yang akan dihadapi, sebab tantangan dan pencobaan itu bukan datang dari ALLAH sebagai Tuhan atau Iblis sebagai musuh, tetapi pencobaan dan tantangan itu datang dari diri kita sendiri yang menciptakannya.The controlling yourselves, that the basic composition for make this world to be better again, just remember what your limitation from your attitude.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan ke 3 jenis Hukum yang mengatur proses bertransaksi

Pengelolaan Lahan di Indonesia

Pluralitas sebagai Pemersatu Bangsa Indonesia